It's just my little's notes…

Archive for the ‘kehidupan’ Category

Ketika membuka koleksi cd-cd lama dirumah, saya menemukan sebuah cd film Children of Heaven, sebuah film lama namun saya sangat terkesan sekali dengan film tersebut, mengharukan dan banyak pesan moral yang disampaikan, ketika menontonnyapun saya tak pernah sanggup untuk menahan air mata haru dari kisah film ini.

Sinema ini mengambil setting tentang satu keluarga miskin dengan dua orang anak yaitu Ali dan Zahra. Ali tanpa sengaja menghilangkan sepatu satu-satunya milik Zahra adiknya, Zahra sedih dan merasa amat kesal saat sepatunya hilang oleh kakaknya, Ali. Di sisi lain, Ali pun khawatir jika kasus hilangnya sepatu itu akan diketahui oleh sang Ayah. Maka, demi menutupinya, mereka mesti bergantian memakai sepatu Ali untuk pergi bersekolah. Zahra yang masuk lebih pagi akhirnya harus berlari sepulang sekolah untuk menyerahkan sepatu yang ia kenakan kepada Ali yang masuk siang.

Beberapa kecerdikan khas anak-anak dalam menghadapi masalah terlihat di lakon ini. Ali beberapa kali harus berbohong pada gurunya ketika ia terlambat. Bahkan pernah sekali waktu, Ali diusir Kepala Sekolah, meski kemudian dibantu seorang guru untuk bisa masuk kelas.

Disinilah kemudian kisah heroik Ali dimulai. Suatu hari, ia melihat pengumuman di sekolah mengenai lomba lari marathon, yang untuk juara ketiga tersedia hadiah sepasang sepatu baru. Melihat kesempatan ini, Ali merasa mendapatkan jalan untuk mengganti sepatu adiknya. Kebiasaan harus berlari kencang tiap hari ke sekolah, termasuk pengalaman dikejar anjing ketika membantu ayahnya menjadi tukang kebun, memercikkan sebuah optimisme pada Ali untuk mencoba tantangan lomba lari itu.

Lomba berjalan seperti harapan. Ali dan rombongannya, yang datang dengan truk dan berbusana seadanya, harus berhadapan dengan anak-anak elit yang sepertinya terlatih untuk memenangkan lomba ini. Ali terus memacu langkahnya untuk menjadi juara ketiga. Meski sempat terjatuh di tengah lomba, ia terus berlari, hingga ia lupa bahwa ia hanya ingin juara ketiga. Kenyataan berjalan tak sesuai keinginan, Ali menjadi juara pertama.

Film garapan sutradara asal Iran Majid Majidi ini, dikemas dengan sederhana dan mengangkat tema kehidupan sehari-hari di Iran. Cerita ini bertutur tentang kemiskinan tanpa harus dipenuhi kemuraman, kisahnya tidak cengeng meski hidup dalam keterbatasan. Dengan imaji yang rasional, film yang dibintangi dua bintang cilik ini—Amir Farrokh Hashemian (sebagai Ali) dan Bahare Seddiqi (sebagai Zahra) terasa dekat dengan aktivitas kita sehari-hari. Film ini menyabet penghargaan Best Picture dari Festival Film Montreal dan menjadi nominator untuk kategori Best Foreign Film pada Academy Award tahun 2004, sebuah gelar yang akhirnya dimenangi oleh Life is Beautiful-nya Roberto Benigni.

Kendati berkisah tentang kehidupan anak-anak, menurut saya film ini sangat bagus dan layak, dan saya sangat rekomendasikan, untuk ditonton oleh para orang tua juga anak-anak (bagi yang belum pernah menonton) karena mengajarkan beberapa pesan, nilai dan pelajaran tentang kehidupan.

Pertama : Ikhlas dan tawakkal menerima keadaan yang ada, dalam keterbatasan ekonomi tidak lantas membuat mereka menjadi cengeng dan minta belas kasihan orang lain.

Kedua : Anak-anak yang sangat memahami keadaan orang tuanya, ketika sepatu adiknya hilang tidak membuat Ali merengek dibelikan orang tuanya, namun tetap bertahan dengan satu sepatu untuk berdua yang dipakai secara bergantian.

Ketiga empaty dan murah hati, ketika melihat sepatunya yang hilang ternyata dipakai oleh anak dari keluarga yang lebih miskin dari mereka, mereka tidak memaksa mengambil sepatunya itu kembali. Kalau hal tersebut terjadi pada diri kita mungkin yang kita lakukan adalah meminta kembali sepatu tersebut apalagi sepatu tersebut satu-satunya sepatu milik kita dan sangat kita butuhkan.

Keempat tanggung jawab, karena telah menghilangkan sepatu adiknya Ali berusaha menggantinya meski dengan perjuangan yang berat sebagai wujud tanggung jawabnya.

Masih banyak lagi pelajaran yang dapat dipetik dari kisah ini, dan yang ingin saya katakan untuk mereka anak-anak dalam kisah ini “mereka adalah anak-anak hebat dan luar biasa, pantas jika film ini berjudul ANAK-ANAK SURGA.

Iklan

Sejak jumat pagi, sms bapak sudah beberapa kali muncul ke telepon selular kami, mengirim percik-percik kerinduan sesosok orang tua kepada anak-cucunya. Pun demikian ketika langkah kami masih di tengah perjalanan, dan rehat shalat jumat di suatu masjid. Sekitar pukul 1 siang kami tiba di kampung halaman kami, ketika kendaraan kami hampir memasuki plataran disamping rumah terlihat bapak sudah menunggu kedatangan kami diteras rumah.

Raut muka tua itu menjadi sangat sumringah melihat kedatangan kami dan seperti kebiasaannya beliau selalu mengangkat kedua tangannya keatas sebagai ekspresi kegembiraannya apabila bertemu dengan orang-orang yang dirindukannya.

Kembali pulang, anakku sayang
Kembali ke bilik malam
Jika kapalmu telah rapat ke tepi
Kita akan bercerita
Tentang cinta dan hidupmu di pagi hari

(Surat dari Ibu – Asrul Sani, 1948)

Kami terakhir pulang kampung pada akhir Desember tahun lalu, alias 4 bulan kami baru bisa mengunjungi bapak dan ibu lagi, belum terlalu lama memang, namun rasa rindu sudah sangat mendalam seakan sudah lama sekali kami tidak bertemu, terutama bapak selalu menghitung hari apabila kami bilang atau berencana pulang kampung. Ternyata saling berkirim gambar, kabar dan suara belumlah cukup untuk menghapus semua kerinduan dan kiranya hanya pertemuanlah yang bisa membayar lunas rindu yang terpendam.

Yang saya bilang bapak ini adalah bapak mertua saya, meski bapak mertua namun kedekatan hati saya sebagai menantu seperti kedekatan antara anak dan bapak kandungnya. Ya bapak sangat menyayangi para menantunya sebagaimana bapak menyayangi anak kandungnya sendiri. Bapak mertua bagi saya adalah sosok pengganti bapak kandung saya yang telah wafat 16 tahun lalu.

Sebagaimana sebuah doa: rabbana hablana min azwaajina, wadzurriyatina, qurrata a’yuni waj’alna lil muttaqina imamaa.. Ya Tuhan kami, anugerahkan kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami, dan jadikan kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.

Anak dan cucu adalah perhiasan di kala tua, penyejuk mata saat lanjut usia. Diusia senjanya seperti sekarang ini, yang menjadi kebahagian bapak dan ibu adalah ketika semua anak-anak dan keenam cucunya berkumpul, terlihat jelas sinar bahagia terpancar dari wajahnya ketika melihat kami dalam keadaan sehat dan menyaksikan tingkah polah cucu-cucunya. Terdengar berulang-ulang bapak mengucapkan kata “porem” istilah orang-orang dikampung kami yang kira-kira maksudnya adalah KEREN ABIS 🙂 sanking senangnya hati beliau melihat semua anaknya bisa berkumpul.

Jika saya kaitkan dengan salah satu manfaat silaturahmi bisa memperpanjang umur, kiranya benar adanya karena dengan bertemu dan berkumpul dalam suasana yang menyenangkan, hati menjadi bahagia dan gembira, hilang segala kesedihan dan mengobati / mengurangi permasalahan yang ada.

Ketika tahu kami hanya bisa menginap satu malam saja, Bapak terlihat sangat kecewa, “durung mari kangenne je kok kesusu balik” (belum habis kangennya kok buru-buru pulang) ….ya bapak mengharapkan kami 2 hari tinggal disana, namun karena suatu urusan memaksa kami harus membagi-bagi waktu agar bisa terlaksana semua. Maafkan kami pak bu, sebenarnya kami juga sangat ingin berlama-lama disini.

Perpisahan sering mendatangkan kesedihan dan itulah yang terjadi ketika kami berpamitan esok harinya, dengan muka yang berkaca-kaca bapak – ibu mencium kening kami seraya berkata “hati-hati dijalan ya, doa bapak ibu selalu untuk kalian.

Dengan berat hati kami meninggalkan mereka, batin kamipun sedih ketika harus meninggalkan bapak ibu, tapi Insya Allah kami akan sering mengunjungimu untuk bisa ngumpul lagi dan doa kamipun akan selalu terlantun untukmu.. Robbirhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiiroo
“Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” [Al Israa’:24]

You held me up when I was weak.
You hugged me close when tears I’d weep.
When things got hard, you pushed me through.
You always showed me you loved me true.
I know there were times I made you cry, and to this day,
I don’t know why.
For without you, where would I be?
I am thankful God gave you to me.
Thanks Dad for you are one in a million.

(Daddy – Laura Phipps, 1996)

Ketika memasuki bulan April, yang terlintas dalam benak kita adalah hari Kartini, yaitu hari untuk memperingati seorang tokoh wanita yang kita kenal sebagai pejuang emansipasi wanita.

Kecil saya dulu ketika masih sekolah SD, setiap tanggal 21 April selalu memperingati hari Kartini dengan mengadakan karnaval dan berbagai lomba dengan memakai baju pakaian adat, ketika itu belum tahu apa arti dan maksud dari perjuangan RA Kartini, tahunya hanya tanggal 21 April adalah hari Kartini dan senang karena ada karnaval dan lomba memakai baju adat 🙂

Lalu pelajaran apa yang bisa diambil dari seorang Kartini? Untuk itu perlu kita refresh lagi ingatan kita tentang sejarah Kartini, Kartini lahir di kota Jepara Jawa Tengah pada tanggal 21 April 1879, beliau merupakan keturunan priyayi atau bangsawan Jawa, putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara, ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara.

Kartini tumbuh dan belajar di lingkungan yang kental tata cara ningrat jawa, ia hanya boleh bergaul dengan orang-orang Belanda atau orang-orang yang terhormat dan tidak boleh bergaul dengan rakyat kebanyakan namun Kartini tidak menyukai lingkungan yang demikian, hal ini terlihat dari isi suratnya yang ditujukan kepada Estelle “Stella” Zeehandelaar, tanggal 18 Agustus 1899 diantaranya: “Peduli apa aku dengan segala tata cara itu, segala peraturan-peraturan, semua itu bikinan manusia dan menyiksa diriku saja”

Kartini ingin mengubah keadaan tentang keningratan yang membeda-bedakan kelas sosial yang mana semakin biru darah ningratnya semakin tinggi kedudukannya, karena menurutnya setiap manusia sederajat dan mereka berhak untuk mendapat perlakuan sama. Sebagaimana suratnya kepada Stella pada tanggal 18 Agustus 1899: “Bagi saya hanya ada dua macam keningratan: Keningratan Pikiran (fikrah) dan Keningratan Budi (akhlak). Tidak ada yang lebih gila dan bodoh menurut persepsi saya daripada melihat orang yang membanggakan asal keturunannya. Apakah berarti sudah beramal sholeh, orang yang bergelar Graaf atau Baron!”

Untuk memajukan para wanita yang ketika masa penjajahan dulu dianggap hanya “konco wingking” yang tidak boleh maju dan dinomorduakan dibandingkan dengan kaum laki-laki, Kartini berupaya memajukannya untuk mendapatkan hak pendidikan yang sama dengan laki-laki. Perjuangan Kartini tidaklah berarti untuk menyaingi laki-laki, namun memberi kontribusi bagi perbaikan masyarakat.

Cita-citanya ini diungkapkan melalui suratnya kepada Prof Anton dan Nyonya, pada tanggal 4 Oktober 1902: “Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan. Bukan sekali-sekali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tetapi, karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam (sunnatullah) sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.”

Dari pemikiran-pemikiran Kartini tersebut dapat diambil pelajaran bahwa perjuangan Kartini bukan hanya untuk kepentingan wanita saja, namun jauh lebih luhur dan luas lagi yaitu untuk perbaikan tatanan kehidupan
masyarakat seperti :

* Mengubah budaya keningratan yang membedakan status sosial manusia kepada persamaan derajat setiap manusia dan yang membedakannya adalah tingkat ketaqwaannya.

Hal ini sesuai dengan Al Qur’an Surat Al Hujurat ayat 13

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

* Menyamakan persamaan hak dalam mencari ilmu bagi setiap manusia baik laki-laki maupun perempuan karena mencari ilmu adalah wajib bagi setiap manusia.

sesuai sabda Rasulullah :

“Menuntut ilmu itu diwajibkan bagi setiap orang Islam”
(Riwayat Ibnu Majah, Al-Baihaqi, Ibnu Abdil Barr, dan Ibnu Adi, dari Anas bin Malik)

* Ingin memajukan kaum wanita sesuai dengan kodratnya sebagai wanita agar tidak menjadi wanita yang terbelakang sehingga dapat memberikan kontribusi demi kemajuan umat dengan tidak meninggalkan kodratnya sebagai wanita dan fungsi utamanya yaitu sebagai ibu dan pengatur rumah tangga.

wallahu a’lam bishowab

Sumber :
1. Wikipedia.org
2. Sandiprasetian36.blogdetik.com

Kekalahan atau kegagalan seringkali membuat orang menjadi putus asa dan menyesali diri, ada orang yang mudah bangkit namun tidak jarang pula yang tenggelam dalam keputusasaan.

Banyak pepatah yang bisa menjadi penyemangat bagi orang yang mengalami kegagalan seperti kegagalan adalah sukses yang tertunda atau kegagalan bukanlah akhir dari segalanya

Dr. ‘Aidh bin Abdullah Al Qarni, MA dalam bukunya Don’t Be Sad mengatakan bahwa orang yang pintar dan trampil adalah orang yang selalu bisa mengubah kekalahan menjadi kemenangan, sementara orang tidak trampil semakin mempersulit kedaannya, bahkan seringkali ia membuat dua malapetaka dari suatu perkara.

Banyak kisah tauladan yang mengubah kekalahan menjadi suatu keberhasilan :

Rasulullah SAW, dipaksa berhenti berdakwah dan meninggalkan Mekkah oleh Kaum Qurays, namun bukannya beliau berhenti berdakwah namun justru beliau melanjutkannya dengan berhijrah ke Madinah dan menuai keberhasilan dakwah disana.

Imam Akhmad bin Hambal pernah disiksa dengan kejam, namun ia mendapatkan kebaikan dari peristiwa yang dilaluinya sampai ia kemudian menjadi Imam Mazhab.

Imam Ibnu Taimiyah pernah di penjara, ketika keluar ia menjadi seorang yang jauh lebih pandai dibanding sebelumnya.

Imam as Sarakhsi dalam sekapan ruang bawah tanah bekas sumur tua berhasil menulis 20 jilid buku mengenai fikih Islam.

Ibnu Atsir saat lumpuh berhasil menulis kitab hadist Jami’ul Ushul dan An Nihayah.

Dizaman sekarang ada juga Pepeng dalam kondisi ketidakberdayaan raganya masih bisa bermanfaat bagi banyak orang.

Kata yang indah dari Dr. ‘Aidh bin Abdullah Al Qarni, MA, jika anda ditimpa kemalangan atau kegagalan, lihatlah sisi baiknya, jika seseorang memberi anda segelas jeruk masam, tambahkan gula secukupnya, dan jika sesorang anda ular sebagai hadiah, ambillah kulitnya yang berharga dan buanglah sisanya.

Dalam setiap keadaan seseorang bisa menemukan kebaikan, keuntungan serta pahala dari Allah.

For my cousin : Failure is not the end but make the failure is the beginning of success so..don’t be sad.

Sumber : Don’t Be Sad, Dr. ‘Aidh bin Abdullah Al Qarni, MA.

Ngobrol dengan teman atau saudara memang menyenangkan, namun adakalanya saking asyiknya menjadikan obrolannya jadi ngalor – ngidul bahkan tidak jarang tanpa sadar membicarakan aib orang lain.

Hal semacam ini juga sering kita temui baik ditempat umum, dilingkungan rumah, di kantor dan lain-lain. Seperti juga yang sering saya temui dilingkungan saya bekerja, awalnya hanya membicarakan tentang pekerjaan namun lama-lama obrolannya melebar kemana-mana akhirnya jadi nggosip, ghibah (bergunjing), ngomongin aib orang apalagi jika tidak senang melihat orang lain senang.

Tidak mudah memang untuk menghindar jika sudah terperangkap dalam jerat teman yang awalnya hanya ngobrol biasa namun berujung ngomongin kejelekan orang, seperti yang tidak jarang saya alami. Saya merasa tidak enak jika langsung memotong pembicaraannya atau langsung pergi begitu saja khawatir teman menjadi tersinggung apalagi jika mereka usianya lebih tua, jika usianya lebih muda saya bisa langsung bilang “dilarang nggosip”, dan biasanya mereka langsung ketawa dan berhenti ngomongin orang.

Padahal kalau kita ingat (karena semua orang pastinya sudah tahu hukumnya ya kan … namun seringnya lupa 😦 ) kalau ghibah atau mengunjing atau membicarakan aib orang lain itu hukumnya haram / dosa.

“Hai orang-orang beriman, jauhilah kebanyakan sangka-sangka (dugaan terhadap sesama muslim), karena sebagian sangka-sangka itu adalah dosa. Dan janganlah kamu mencari aib (keburukan). Dan janganlah sebagian kamu mengumpat yang lain. Sukakah salah seorang dari kamu memakan daging saudaramu yang telah mati (bangkainya)? Maka kamu tentu kamu benci memakannya, takutkan kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah maha penerima taubat lahi maha penyayang” (Qs Al Hujurat :12)

Bahkan menggunjingkan aib orang lain meski yang dibilangkan itu benarpun termasuk ghibah (kecuali ghibah yang diperbolehkan misalnya melaporkan perbuatan aniaya kepada penegak hukum).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wa sallam bersabda: “Tahukah kalian apa itu ghibah?”, Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Beliau bersabda, “Yaitu engkau menceritakan tentang saudaramu yang membuatnya tidak suka.” Lalu ditanyakan kepada beliau, “Lalu bagaimana apabila pada diri saudara saya itu kenyataannya sebagaimana yang saya ungkapkan?” Maka beliau bersabda, “Apabila cerita yang engkau katakan itu sesuai dengan kenyataan maka engkau telah mengghibahinya. Dan apabila ternyata tidak sesuai dengan kenyataan dirinya maka engkau telah berdusta atas namanya.” (HR. Muslim)

Agar terhindar atau tidak terlibat dari ghibah saya telah menemukan tips yang Insya Allah manjur antara lain :

1. Selalu ingat larangan ghibah pada saat berbicara.

2. Sebisa mungkin mengalihkan pembicaraan, tentunya dengan cara yang tidak menyinggung perasaan teman yang mengajak bicara.

3. Menghindarkan diri dari arena ghibah misalnya tidak berlama-lama ngobrol dengan teman yang suka ghibah.

4. Berjanji kepada diri sendiri untuk sebisa mungkin tidak membiarkan orang lain menjadikan diri sendiri sebagai sasaran empuk untuk ghibah.

Mudah-mudahan Allah menjauhkan diriku & keluargaku juga kita semua dari perbuatan yang tidak terpuji ini, amin.

sumber gambar : abughifari.wordpress.com

“Sangat menakjubkan sebagai seorang muslim, apabila segala urusannya sangat baik baginya dan itu tidak akan terjadi bagi seseorang yang beriman, kecuali apabila mendapatan kesenangan ia bersyukur maka demikian sangatlah baik dan apabila ia tertimpa kesusahan ia sabar, maka yang demikian itu sangat baik baginya” (HR. Muslim)

Bahwa dalam hidup tidak ada orang yang tidak menghadapi masalah dan kesulitan karena memang itulah romantika kehidupan, namun orang yang mukmin, orang yang berhasil juga orang yang luar biasa adalah orang yang mampu menjadikan dan memandang seluruh hidupnya positip.. kemudahan dan kesulitan menjadi bernilai positif baginya yaitu dengan tidak pernah lupa bersyukur ketika mendapatkan kesenangan dan selalu bersabar ketika mendapatkan kesulitan/kesusahan.

sumber gambar : theordinaryboy.blogdetik.com

Akhir pekan lalu, saat kami sedang mencari keperluan olahraga untuk anak disalah satu pusat pertokoan yang cukup ramai di Semarang, saya sedikit terpana melihat pemandangan di sebuah toko buku terkenal, dipintu masuk toko terdapat berbagai bunga, souvenir dan gift art berbentuk love yang tersusun demikian menarik yang warnanya serba pink dan merah juga beraneka ragam bentuk coklat.

Ajakan untuk mengekspresikan kasih sayang

“Rupanya masih ada peringatan Valentine Day di hari gini” ujarku kepada suami “Jangan salah disini saja yang kelihatan sepi, kalau di Jakarta lumayan ramai“ kata suami. Sebelumnya saya pikir masyarakat kita sudah tidak ngeh dengan valentine karena saya tidak begitu melihat iklan atau promosi yang berlebih di stasiun tv tentang velentine tahun ini (atau mungkin saya yang tidak tahu ya 🙂 )dan saya merasa sangat senang karena budaya yang tidak jelas dan tidak ada tuntunannya ini sudah diabaikan orang namun dugaan saya salah karena perayaan ini ternyata masih banyak peminatnya.

tulisan-tulisan kecil sebagai ungkapan kasih sayang dari para pengunjung

Rizq dok

Bicara tentang Valentine’s Day atau yang biasa disingkat V-Day, konon bermula dari bangsa Romawi Kuno yang menetapkan bulan Pebruari sebagai bulan cinta dan kesuburan, disini bukanlah cinta yang berarti kasih sayang melainkan lebih dalam pemahaman hubungan seks atau making love dan bukan dalam artian effection yang berarti kasih sayang.

Perayaan cinta dibulan Pebruari ini mencapai puncaknya pada pertengahan bulan Pebruari dalam sebuah upacara yang disebut Lupercalian Festival, dimana para perempuan muda memasrahkan dirinya kepada para pemuda yang memillihnya dan harus melayani syahwat mereka tanpa syarat.

Berabad kemudian sebuah kelompok agamawan yang ingin menancapkan pengaruhnya di Istana Roma Pagan, banyak mengadopsi symbol dan ajaran paganisme Romawi ke dalam ajarannya sehingga Lupercalian Festivalpun dimasukkan sebagai salah satu hari peringatan ditempat peribadatan mereka. Hingga mitos Santo Valentinuspun (dan banyak mitos lain tentang valentine) dibuat untuk menyakinkan semua kalangan bahwa hari pertengahan Pebruari merupakan hari yang harus sungguh-sungguh diperingati dan dirayakan, dan kemudian mereka mengganti istilah Lupercalian Festival menjadi Valentine’s Day.

Kapan Valentine’s Day masuk ke Indonesia, katanya tidak ada yang tahu pasti, namun V-Day dipercaya masuk ke Indonesia dibawa oleh ekspatriat yang datang ke Indonesia dan pada awal tahun 80an V-Day mulai marak diperingati diberbagai kota besar yang kian hari perkembanganya semakin pesat sampai ke pelosok kampung di negeri ini dan merambah ke segala lapisan usia terutama kaum remaja.

Tentang maraknya perayaan V-Day ada dua kemungkinan jawabannya Pertama para pebisnis yang memasukkan momen V-Day ke dalam bussiness plan tahunan mereka, para kapitalis ini mencari celah agar segalanya bisa menjadi uang sehingga mereka mempromote momen ini sedemikian rupa untuk meraup keuntungan materi sebanyak mungkin. Mereka dianggap sebagai salah satu pihak yang berperan terhadap penyebaran V-Day hingga dikenal diseantero dunia.

Kedua Valentine’s Day jelas bukan budaya islam karena jelas datangya bukan dari agama islam dan tidak ada tuntunannya didalam islam, ini lebih merupakan globalisasi budaya dimana merupakan hasil budaya barat yang diinvasi ke seluruh belahan dunia. Bagi sebagian kalangan mungkin hal ini tidak perlu dicemaskan, namun dari pandangan akidah dan juga kesehatan jiwa, invasi budaya ini harus sungguh-sungguh dicermati dan diwaspadai karena bukan tidak mungkin hal ini merupakan penjajahan budaya ke seluruh dunia dan merupakan suatu kesengajaan dan terencana, hal ini dapat ditengarai dari pengakuan tokoh-tokoh tentang invansi globalisasi budaya ini :

Misi utama kita bukanlah menjadikan kaum muslimin beralih agama (murtad), tapi cukuplah dengan menjauhkan mereka dari Islam… Kita jadikan mereka sebagai generasi muda islam yang jauh dari islam, malas bekerja keras, suka berfoya-foya,senang dengan kemaksiyatan, memburu kenikmatan hidup dan orientasi hidupnya hanya untuk memuaskan nafsunya…” (Pidato Samuel Zwemmer, dalam Konferensi Missi di Yerusalem, 1935)

Di dalam mata rantai kebudayaan barat, gerakan misi punya dua tugas : menghancurkan peradaban Islam dan membina kembali dalam bentuk peradaban barat. Ini perlu dilakukan agar si muslim dapat berdiri pada barisan budaya barat untuk melawan umatnya sendiri” (Samuel Zweimmer, Ketua Liga Yahudi Internasional dalam buka “Al Gharah ‘Alal ‘Alam Islamy”, hal 275)

Boleh jadi, dalam beberapa tahun mendatang sumbangan besar misionaris diwilayah-wilayah muslim akan tidak begitu banyak memurtadkan orang muslim, melainkan lebih banyak menyelengkan islam itu sendiri, inilah bidang tugas yang tidak bias diabaikan” (Harry Dorman, dalam Towards Understanding Islam mengungkapkan pernyataan seorang misionaris)

Lalu bagaimana pendapat para pemuka agama Islam diseluruh dunia tentang hal ini, mereka sepakat bahwa HARAM hukumnya bagi umat islam untuk ikut-ikutan merayakan hari valentine dengan tingkat partisipasi apapun bahkan meski hanya sekedar mengucapkan “Selamat Hari Valentine”

Yang menjadi dasar hukumnya antara lain :

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan diminta pertanggungjawaban” (QS Al Isra’ :36)

Barangsiapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut” (HR Abu Daud dan Imam Ahmad dari Ibnu Umar.

Barangsiapa melakukan amal yang tidak dilandasai perintahku (Qur’an dan Sunnah), maka amal perbuatannya tertolak” (HR Ahmad).

Semoga kita dan generasi kita tidak termasuk dalam golongan yang lurus dalam aqidah dan tidak mudah ikut-ikutan atau melakukan sesuatu yang tidak ada tuntunannya…amin

Sumber : Eramuslimdigest Edisi Koleksi 5 “DARK Of VALENTINES”


Mutiara Kata

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 216)
Oktober 2017
S S R K J S M
« Jul    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Archives

Top Rating

Blog Stats

  • 166,556 hits

Favorit link